Entri Populer

Februari 13, 2011

The Music Of Love Bab 2

Bab 2
Hal-hal Tak Terduga

    Pada suatu pagi, 14 tahun setelah kejadian itu. Pagi itu Rin akan berangkat kuliah, namun langkahnya terhenti karena Papi-nya terlihat seperti akan pindahan.
“Papi mau kemana? Kok udah siap-siap gitu?” Papi Rin hanya tersenyum, dia tau kalau dia tak bisa  mengabaikan anak semata wayangnya.
“Papi mau ke Indonesia sayang, karena sebaiknya papi mengunjungi keluarga Kurosawa, dan mengecek perusahaan papi yang ada disana.” Rin mengangguk mengerti dan mulai merengek pada Papi-nya.
“Papi, Rin boleh ikut gak? Study SMA Rin kan sudah selesai, jadi Rin bisa kuliah disana mencari suasana baru, yah meskipun kuliah Rin disini belum selesai. Boleh kan Pi?” Papi Rin hanya tersenyum, dia tau bahwa permintaan anaknya tak mungkin bisa ditolak.
 “ Baiklah, Papi akan mengajak Rin-chan.” Rin bersorak gembira, dia tau permintaannya pasti dikabulkan oleh Papinya.
    Dua hari kemudian seperti yang dijanjikan Papi-nya, Rin pergi ke Indonesia. Dia bersama papi-nya naik pesawat pribadi miliknya. Setelah beberapa jam, Rin dan Papi-nya sudah tiba di Indonesia. Setelah sampai di rumah barunya, Rin takjub. Karena meskipun rumah ini kecil, namun sangat indah. Rin berjalan-jalan mengelilingi rumah dan akhirnya menemukan kamar yang cocok untuk dirinya sendiri.
 “Papi, Rin tidur di kamar belakang dekat taman ya?” Rin meminta ijin pada Papi-nya, namun Papi-nya hanya mengangguk. Rin sangat bahagia dan segera membereskan kamar barunya. Namun karena kelelahan, Rin tertidur sejenak.
Saat bangun, ternyata sudah jam 6 sore. Rin bergegas untuk mandi agar tubuhnya yang lengket kembali segar. Akhirnya Rin turun ke bawah dan menuju dapur. Disana dia tidak menemukan makanan, namun saat melihat isi kulkas, Rin jadi berpikiran untuk membuat omelet saja. Beberapa saat kemudian dia selesai membuat 2 porsi omelet, untuk dirinya dan Papi-nya. Rin mencari Papi-nya ke seluruh ruangan, dan akhirnya Rin menemukan Papi-nya sedang membersihkan ruang tamu.
“Papi ngapain bersih-bersih ruang tamu? Memangnya mau ada tamu ya? Oiya, Rin udah buatin omelet buat Papi, Papi pasti sudah lapar kan?” Rin menarik Papinya ke dapur, dan menyuguhkan omelet di meja makan. Bau khas telur menyebar di seluruh ruangan,
“Wah kayaknya enak ni? Papi coba ya?” Papi Rin memakan omelet itu dan tersenyum bahagia.
 “Wah, masakan Rin-chan memang selalu enak. Kayaknya sudah waktunya cari suami nih? Hihihi” Papi Rin bercanda dan Rin hanya cemberut. Setelah selesai makan dan mencuci piring, Rin dan Papinya beranjak ke ruang keluarga.
“Rin, sebentar lagi Papi mau berkunjung kerumah temen Papi. Kamu segera ganti pakaian, terus ikut papi kesana. Ok?”
Rin hanya tersenyum kemudian segera menuju kamarnya. Dia memakai blouse dan celana jeans. Rin lebih suka berpakaian simple yang penting nyaman. Kemudian dia make up wajahnya dengan riasan minimalis.
    Saat Rin turun menuju ruang keluarga, Papi-nya sudah ada di disana. Saat Papi-nya melihat anak semata wayangnya, beliau tersenyum dan bertepuk tangan.
 “Wah, anak Papi cantik banget, kawaii.. Nah karena kamu sudah selesai, ayo kita berangkat. Lagipula Papi juga mau ngenalin kamu sama seseorang.” Papi Rin berkedip pada Rin dan segera berlari menuju mobil-nya. Rin pun mengikutinya dari belakang sambil geleng-geleng, terkadang Papi-nya lebih terlihat kekanakan dari pada dirinya. Rin masuk ke dalam mobil, dan Papi-nya pun melesat ke jalanan Jakarta yang padat. Rin sangat terkejut dengan keadaan di sana, sangat tidak teratur namun tetap indah dengan sisi klasik dan modern. Rin tiba-tiba merasa tidak ingin meninggalkan Jakarta, dia merasa betah disana. Saat mobil Rin memasuki halaman rumah seseorang, dia merasa takjub. Rumah itu sangat besar dan klasik, juga sangat menawan dengan koleksi bunga mawar pemiliknya. Taman dan halamannya sangat indah dan luas, pintu rumahnya pun sangat besar. Papi Rin mengetuk pintu kemudian saat pintu dibuka, Rin menemukan sahabat lama Papi-nya sedang tersenyum dan mempersilahkan dia masuk.
    Rin merasa takjub dengan bagian dalam rumah itu, namun dia lebih kaget lagi karena melihat mami-nya ada di dalam. “Mami? Kenapa mami ada disini?” Rin bergumam agak keras, sehingga Papi-nya mendengarnya.
 “Oh… Mami kamu ada di sini karena dia sudah janji sama Papi untuk menjenguk keluarga ini bersama-sama, anggap saja ini reuni keluarga Rin?” Rin hanya mengangguk mendengar perkataan Papi-nya, setelah saling berjabat tangan mereka akhirnya ngobrol. Sepertinya mereka menyukai Rin, “Wah Rin-chan, meskipun kamu keturunan Jepang-Indonesia dan tinggal lama di Jepang, ternyata bahasa Indonesia kamu lumayan lancar ya?” Rin hanya tersenyum dan Papi Rin tiba-tiba nyeletuk,
 “Lho? Anak kalian mana? Sudah lama aku tidak melihatnya.” Papi Rin berkedip kepada sahabatnya itu. Minato pun membalikkan badannya ke arah tangga dan memanggil anaknya dengan suara keras. “Haru, turun nak. Ini ada teman lama Papi, ayo kasih salam sama mereka.”  Beberapa saat kemudian turunlah seorang cowok dengan badan atletis dan cool banget. Bisa dipastikan bahwa cowok ini jarang tersenyum, Rin hanya cuek saja melihatnya. Dia mengalihkan perhatian dengan melihat sekeliling rumah itu, papi-nya hanya geleng-geleng melihat anak semata wayangnya yang sedikit menjauhi laki-laki. “Oh, jadi ini Haru anak kalian? Aku sudah lama tidak melihatnya, terakhir aku melihatnya waktu dia berumur  2 tahun ya?” Haru tersenyum kepada pria paruh baya di sebelahnya, dia tau bahwa pria ini sangat berjasa bagi kedua orang tuanya. Rin yang sedari tadi mengalihkan pandangan, terkejut karena melihat cowok itu tersenyum. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu reuni keluarga itu. Dia terkejut karena tiba-tiba tangannya dicium oleh lelaki ini, bak seorang pangeran mencium tangan sang putri, Rin yang sempat terkejut sejenak langsung menarik tangannya dan tersenyum. Rin tau hal seperti ini sering terjadi padanya, namun dia kaget karena cowok yang memperlakukannya seperti itu sangat aneh. Dia seperti hampir tanpa ekspresi dan tersenyum terpaksa, itupun hanya bila perlu tersenyum.
    Cowok itu memandang Rin dengan sebelah alis terangkat, lalu memandang dengan pandangan sambil lalu dan menarik tangan Rin yaitu tanda untuk berdiri mengikutinya. Minato menyuruh Haru untuk mengajak Rin jalan-jalan, dan Rin sangat tidak nyaman dengan sikap cowok ini. Setelah agak jauh dari ruang keluarga, Rin melepaskan tangannya dari genggaman cowok itu.
“Sumimasen.. kamu Haru kan? Jika kamu tidak suka melakukannya, tidak usah memaksakan diri.” Rin mengira Haru akan marah dan memakinya, namun cowok itu hanya diam saja. Dia meninggalkan Rin dan dengan terpaksa Rin berjalan mengikutinya. Lagi-lagi wajahnya tanpa ekspresi, dan Rin sebal dengan orang tanpa ekspresi seperti itu. “Kamu sudah kuliah kan? Aku dengar kamu sudah kuliah padahal umur kamu masih 16 tahun.” Tiba-tiba Haru berbalik badan dan mengulurkan tangannya,
“Hemmmm,, aku yang akan menjagamu selama disini. Kenalkan namaku Haru Kurosawa dan kamu besok dimohon bersiap jam 8 pagi, karena besok aku akan mengantarkan kamu ke tempat kuliah kamu yang baru.” Rin kaget mendengar suara Haru, benar-benar halus dan merdu. Rin menjabat tangan Haru dan tersenyum, dia masih tidak percaya akan sikap Haru yang sangat tak terduga.
    Setelah mereka mengelilingi rumah Haru yang sangat indah, mereka berhenti di kolam renang. Disana Rin mencelupkan kakinya ke air dan merasakan kesejukan menjalari kakinya. Saat Rin menoleh kearah Haru, lagi-lagi dia melihat Haru melihatnya tanpa ekspresi. Rin hanya menghela nafas dan berdiri dari tepi kolam. Namun tiba-tiba Rin kehilangan keseimbangan dan akan jatuh ke kolam, tapi dia tidak jadi terjatuh karena Haru menariknya dan Rin terjatuh menindih tubuh Haru. Rin terlonjak kaget dan segera berdiri dengan cepat, kemudian mengulurkan tangannya ke Haru. Haru tidak menyambut tangan Rin dan berdiri sendiri dengan cepat. Rin segera menarik tangannya dan mengucapkan terima kasih.
“Arigatou, kamu sudah menyelamatkan aku. Oia, memangnya aku akan kuliah dimana?” Haru menjawab sambil menjauh, “Di Kurosawa University, kamu di Jurusan Musik sama sepertiku. Dan aku sekelas denganmu namun terkadang aku mengajar disana.”
    Rin kaget dan mengulang perkataan Haru, “Mengajar?” Haru mengangguk dan mengangkat bahu. “Umurku 16 tahun namun mungkin kemampuanku saja yang beda. Aku menyelesaikan study di umur 13 tahun, tanpa Junior High dan kuliah 1 tahun saja kemudian mendapat gelar Master. Namun aku kuliah lagi untuk mendapat ilmu umum dan mendalami musik.  Bukannya aku sombong, tapi itu faktanya.” Lagi-lagi Rin melihat Haru yang tanpa ekspresi, dan Rin bertepuk tangan.
“Wah hebat, aku juga ingin sepertimu. Padahal disana aku hampir tidak punya teman karena kata mereka aku terlalu jenius. Tapi setelah melihatmu, aku jadi yakin kalau orang yang lebih jenius masih banyak. Bisa perlihatkan permainan kamu, please.” Haru menolak dan kembali ke ruang keluarga,
“Tunggu, kenapa?” Rin kesal karena Haru begitu, padahal mugkin saja permainannya sangat bagus.
    Tak berapa lama kemudian mereka pulang dan Rin bertanya kepada kedua orang tuanya, “Pi, mi. Kenapa Haru tanpa ekspresi begitu sih? Terus, kalau dia jenius, kenapa dia tidak mau memperlihatkan musiknya?” Papi Rin yang mengerti permasalahan putrinya itu menjawab, “Mungkin belum saatnya kamu tau nak? Mungkin suatu saat kamu bisa tau semuanya.” Rin hanya mengangkat bahu dan menghilang dari hadapan kedua orang tuanya. Dia tidak ingin memikirkan hal itu, dan Rin masih ingin hidup apa adanya.
    Orang tua Rin ternyata tidak pulang, mereka akan di Jakarta selama beberapa minggu kedepan. Rin senang juga, karena jika mereka pulang, Rin tidak punya teman disana.
Pagi harinya…..
Rin bangun dari tempat tidur jam 5 pagi, menggosok gigi lalu tak lupa berolah raga. Dia jogging di sekitar kompleks perumahannya, berlari-lari kecil sambil melihat-lihat disana. Rin berhenti di taman kompleks perumahan itu, dia duduk sebentar sambil melepas lelah. Saat duduk-duduk disana, dia melihat seorang cewek sedang bertengkar dengan seorang cowok. “Mungkin pacarnya.” kata Rin tak peduli, kebiasaannya itu memang sulit dihilangkan. Tiba-tiba cewek itu menampar pacarnya sangat keras dan berlari ke samping Rin sambil menangis, Rin yang cuek pun jadi penasaran.
“Sumimasen, are you allright?” cewek yang disapa oleh Rin itupun terlonjak, dia tidak menyangkan akan disapa oleh orang asing seperti Rin. “I’m okay, I just want to rest few minutes. Hey, I’m Diana, you?” cewek itu memperkenalkan dirinya sambil mengelap air matanya dengan sapu tangan. “I’m Rin. I’m sorry, I can’t speak Indonesian well. Can I help you? Maybe you want to tell your problem?” Gadis itu menggeleng, dia masih trauma dengan pacarnya itu.
“Hey, where do you come from? China?” Rin tertawa mendengar pernyataan teman barunya itu. “No, I came from Japan, Hokkaido. By the way, can you teach me how to speak Indonesian?” Gadis itu mengangguk lalu mengajak Rin kerumahnya.
    Setelah itu Rin pamit pulang karena sudah hampir jam setengah 8, dia berlari kerumahnya kemudian mandi. Setelah mandi Rin bingung akan memakai baju apa, setelah 5 menit mencari akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan blouse dan rok selutut. Saat dia ke ruang makan, ternyata Papi Mami-nya sudah ada disana bersama dengan Haru. “Rin, kenapa kamu lama sekali sayang? Haru sudah menunggu lama.” Rin yang merasa tidak enak segera meminta maaf. “Sumimasen Haru, aku tadi pergi jogging dan berkenalan dengan cewek. Yah, jadi lama karena aku masih harus diajari Bahasa Indonesia. Sekarang aku sih sudah bisa dikit.” Haru hanya mendongak, menatap Rin kemudian mengangguk, Rin sebal karena Haru selalu tanpa ekspresi. Setelah selesai makan, Rin ijin untuk berangkat, namun rasa sebal Rin menguap begitu dia tau akan diantar dengan mobil Ferrari warna merah. Mobil itu adalah mobil impiannya, Rin pernah akan membelinya dengan uang hasil konsernya, namun Papi-nya melarang. Katanya lebih baik uangnya digunakan untuk keperluan yang lebih berguna.
    Rin segera naik begitu Haru membukakan pintu untuknya, pintunya terbuka ke atas secara otomatis. Rin mengerti, mungkin Haru sudah memodivikasi mobilnya, dan interiornya pun penuh dengan nuansa musik. Rin jadi betah duduk disana dan menikmati musik yang diputar Haru. “Oh, jadi ini permainan kamu? Aku jadi ingat siapa yang disebut pemuda jenius di Amerika, ternyata kamu.” Haru terkejut, “Kenapa kamu bisa tau? Padahal orang jenius di dunia ini banyak.” Rin terseyum miring, “Kau meremehkanku ya? Aku bisa mengenali permainan seseorang, dengan hanya mendengarkannya saja.” Haru membelokkan mobilnya ke sebuah gedung besar dan megah, Rin kagum melihat bangunannya. Rupanya disana gedung khusus Jurusan Musik dan gedung itu sudah ramai dengan mahasiswa yang sudah bersiap kuliah. Saat Rin memasuki halaman, semua yang ada disana melihat ke arah Rin. Mungkin mereka heran, kenapa dia bisa bersama dengan Haru, Si Jenius anak pemilik Kurosawa University. Rin turun dari mobil dan kaget karena tiba-tiba Haru menarik tangannya, mungkin Haru sudah tau kalau Rin sering tersesat.
    Semua orang melihat ke arah Rin, mungkin mereka terpesona akan kecantikan Rin. Rin termasuk kategori high class, dia pernah ikut modeling dan terpilih menjadi Miss Hokkaido disana. Namun Rin bukan orang yang sombong, dan kecerobohan merupakan salah kelemahannya. Rin menyukai bangunan kampusnya yang baru, dulu dia tidak pernah menikmati kuliah dengan tenang. Setiap tahun di kampus Rin yang lama, selalu ada yang merayakan ulang tahunnya lewat fans club yang entah siapa pembentuknya. Haru mengajak Rin ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun elegan dan menarik, karena di depan ruangan terdapat logo Kurosawa University. Saat memasuki ruangan itu, ada seorang lelaki paruh baya sedang duduk dan menatap foto di depannya. Saat Rin dan Haru berjalan memasuki ruangan, lelaki paruh baya sekaligus Ayah Haru itu langsung menatap Rin dan mengedipkan sebelah matanya kepada Haru. Haru mengerti dan segera meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Ran berdua dengan Ayahnya kemudian kembali membawa Papi Ran bersamanya. Ran sangat heran dengan semua ini, firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak beres akan terjadi.
    Ayah Haru memulai percakapan dengan berdehem dan mengucapkan salam. Kemudian beliau mengangkat sebelah alisnya kearah Papi Rin, Rin jadi heran. Kemudian Papi Rin mendekati Rin dan menarik nafas.
“Rin, Papi memanggil kamu kesini karena Papi ingin kamu bahagia, karena sebentar lagi Papi akan kembali ke Hokkaido. Papi merasa harus ada yang merawat kamu disini, dan menjagamu. Oleh karena itu kami akan mengadakan acara pertunagan kecil-kecilan, antara kamu dan Haru.” Tutup Papi Rin sambil tersenyum, kemudian ganti Minato berbicara. “Benar nak, kami ingin kamu tinggal serumah dengan Haru, agar ada yang menjaga dan merawatmu. “ Rin langsung terpaku, mulutnya menganga kemudian dia menggeleng keras, dia tidak mau menerima keputusan macam ini. “Nggak, Rin nggak mau ada keputusan sepihak kayak gini. Memangnya Haru setuju dengan hal ini, nggak kan? Jadi kenapa harus ada keputusan ini, lagian Rin masih bisa jaga diri kok? Papi nggak bisa kayak gini dong?” Rin menarik nafas setelah menghabiskan oksigen dalam paru-paru nya. Dia menunggu vonis selanjutnya, Rin tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah hidupnya. “Tidak bisa Rin.” Papi Rin angkat bicara, “Kami sudah sepakat, lagi pula Haru sudah sepakat dengan keputusan ini, dia tidak keberatan kok?” Secara spontan Rin menoleh kearah Haru dan seperti biasanya, dia berdiri tanpa ekspresi.
    Rin tidak mau menyerah tentang hal ini, dia masih ingin hidup seperti biasa dan tidak mau ditunangkan. Dia masih ingin hidup bebas, dan mungkin masih ingin memikirkan cowok di masa depan. Rin ingin meminta bantuan Mami-nya, namun percuma. Akhirnya dia berpikir, jika berdua dengan Haru saja, pasti dia jadi patung hidup. Namun Rin lebih memilih jadi patung hidup saja daripada tidak punya teman dirumah. Rin menghela nafas, “Baiklah, aku mau tapi jika Haru mau juga dan ikhlas. Aku ingin mendengar dari mulutnya sendiri.”
Rin mencondongkan tubuhnya ke Haru, “Haru, kau benar-benar mau bertunangan denganku?” 1 menit pertama dia diam saja, rupanya selama ini Papi Rin dan Minato memaksanya. Namun di menit kedua, Rin mendengar suara merdu Haru. “Aku mau, naun aku ingin melihat Rin memainkan biolanya di hadapan seluruh murid disini” Haru tersenyum puas setelah mengatakan hal itu. Kontan saja Rin menggeleng, “Nggak, lebih baik aku tinggal disini sendirian saja.”
Papi Rin menghampirinya, ditatapnya dengan lembut anak kesayangannya itu. “Nak, Papi khawatir kamu tinggal sendirian di Jakarta. Disini kamu tidak tau arah, bagaimana kalau kamu tersesat?” Papi Rin mengingatkannya pada kelemahannya yang paling menjengkelkan. Rin berpikir sebentar kemudian mengangguk, sekarang dia tahu kalau Haru itu orang yang sangat menjengkelkan dan perlu dikerjai juga sekali-sekali. “Oke aku mau, asal Haru berduet denganku.” Rin berkata dengan senyum sinis, Haru mengembangkan senyumnya yang paling manis. Dia senang karena akhirnya bisa melihat permainan Rin dan bisa berduet dengannya.
    Hari ini semua mahasiswa diminta berkumpul di Aula, mereka heran kenapa tiba-tiba dipanggil dia Aula. Tiba-tiba kepala Yayasan mereka yaitu Minato keluar, dia sudah mengenakan pakaian rapi. “Baiklah, mahasiswa Kurosawa University yang bapak banggakan. Hari ini kami mengadakan perayaan atas sesuatu yang dirahasiakan, namun kalian bisa mendapatkan hiburan dari itu. Kami akan memperdengarkan kebebasan musik dari Rinzu Konno, seorang musisi yang diakui oleh seluruh Jepang dan Haru Kurosawa yaitu musisi yang diakui oleh seluruh Amerika. Nah inilah komposisi mereka berdua, yang akan memainkan lagu dari Beethoven Simphony no. 9.” Setelah itu, Rin dan Haru keluar dan memberikan salam kepada mereka semua dengan menundukkan badan. Setelah itu Rin menyiapkan biolanya dan Haru sudah duduk di depan piano-nya. Mereka memulai denga intro yang dimainkan Haru dan kemudian Rin. Gesekan biola dan piano menyatu dengan indahnya, semua mahasiswa dan dosen yang melihatnya sangat terpesona. Mereka mendengarkan dengan seksama, ruangan hanya dipenuhi dengan gesekan biola dan jari-jari Haru yang menari dengan indahnya diatas tuts piano dan membuat para pendengar terpesona. Setelah mereka berdua selesai memainkan alat musik masing-masing, para pendengar bertepuk tangan dengan riuhnya dan menyalami mereka berdua di atas panggung. Setelah turun panggung, Rin mengulurkan tangannya ke Haru dan Haru menjabatnya tanpa ekspresi. Rin berkata, “Kau hebat, sungguh luar biasa. Tidak salah kalau seluruh dunia menghargaimu.” Haru berkata singkat, “Kau juga.” Kemudian mereka menuju ke kedua orang Papi mereka yang sudah menunggu. Kedua lelaki itu tersenyum melihat kedua anak mereka, kemudian memberi ucapan selamat. “Selamat, kalian berhasil. Ini cincin pertunangan kalian. Haru...” Haru megambil cincin itu dari tangan Papi nya dan memakaikannya ke jari manis Rin. “Selamat, kalian telah resmi bertunangan. Nah untuk memberi kenangan bagi Papi Rin, nanti malam kita semua makan malam. Jadi bersiaplah dan dandan yang cantik ya Rin?” Rin hanya tersenyum mendengar pernyataan Minato, dia merasa sangat sedih dan berpikir mungkin ini adalah jalan Tuhan untuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar